Desa Sikulan bukan hanya dikenal sebagai desa yang asri dan kaya akan hasil pertanian, tetapi juga menyimpan potensi rempah yang bernilai tinggi, salah satunya adalah cengkeh. Tanaman rempah beraroma khas ini tumbuh subur di lingkungan tropis seperti Sikulan, menjadikannya salah satu komoditas yang perlahan mulai mendapat perhatian masyarakat desa. Cengkeh (Syzygium aromaticum) merupakan tanaman perkebunan yang telah lama menjadi bagian dari sejarah rempah Indonesia. Bunga keringnya dimanfaatkan dalam berbagai bidang, mulai dari bahan baku rokok kretek, bumbu masakan, hingga minyak atsiri untuk kebutuhan kesehatan dan industri. Nilai ekonominya yang tinggi membuat cengkeh tidak hanya sekadar tanaman, tetapi juga sumber harapan peningkatan kesejahteraan petani desa.
Di Desa Sikulan, pohon-pohon cengkeh dapat dijumpai tumbuh di kebun milik warga, berdampingan dengan tanaman lain seperti melinjo, pisang, atau tanaman pangan. Meski belum menjadi komoditas utama berskala besar, keberadaan cengkeh menunjukkan bahwa desa ini memiliki potensi besar di sektor perkebunan rempah. Dengan perawatan yang baik, pohon cengkeh dapat berproduksi selama puluhan tahun, menjadikannya investasi jangka panjang bagi masyarakat. Selain bernilai ekonomi, cengkeh juga memiliki nilai ekologis. Pohonnya yang rindang membantu menjaga keseimbangan lingkungan, menahan erosi, serta menciptakan udara yang lebih sejuk di sekitar kebun. Tidak heran jika banyak warga memadukan tanaman cengkeh dengan sistem kebun campuran yang ramah lingkungan.
Ke depan, pengenalan dan pengembangan cengkeh di Desa Sikulan dapat menjadi langkah strategis untuk memperkuat identitas desa sebagai wilayah agraris yang kaya hasil bumi. Dengan dukungan pengetahuan budidaya, pengolahan hasil, serta akses pasar yang lebih luas, cengkeh berpeluang menjadi salah satu komoditas unggulan desa. Melalui cengkeh, Desa Sikulan bukan hanya merawat tanaman, tetapi juga menanam harapan akan masa depan ekonomi yang lebih baik bagi warganya.