Desa Sikulan tidak hanya dianugerahi alam yang hijau dan tanah yang subur, tetapi juga menyimpan potensi hasil bumi yang kaya cita rasa, salah satunya adalah kopi. Tanaman kopi mulai dikenal sebagai bagian dari kekayaan perkebunan desa, tumbuh di lahan warga dan menyatu dengan suasana pedesaan yang sejuk dan alami. Kopi bukan sekadar minuman, melainkan bagian dari budaya dan kebersamaan. Di Desa Sikulan, secangkir kopi sering menjadi teman berbincang di teras rumah, di warung kecil, maupun saat berkumpul setelah bekerja di kebun. Aromanya yang khas menghadirkan kehangatan, sementara rasanya memberi semangat bagi masyarakat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Tanaman kopi memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan. Buah kopi yang telah dipanen dapat diolah melalui berbagai tahapan, mulai dari pengupasan, pengeringan, hingga penyangraian, sebelum akhirnya menjadi bubuk kopi siap seduh. Proses ini membuka peluang usaha bagi masyarakat, baik dalam skala rumah tangga maupun kelompok tani. Dengan pengelolaan yang baik, kopi dapat menjadi sumber pendapatan tambahan sekaligus produk khas desa. Selain bernilai ekonomi, kopi juga memiliki daya tarik tersendiri dari sisi sosial dan budaya. Tradisi minum kopi mempererat hubungan antarwarga, menjadi bagian dari keramahan desa yang sederhana namun bermakna. Tidak jarang, kopi juga disajikan dalam berbagai acara desa sebagai simbol kebersamaan dan penghormatan kepada tamu.
Dari sisi lingkungan, tanaman kopi yang ditanam berdampingan dengan pepohonan lain membantu menjaga keseimbangan alam. Sistem tanam campuran membuat lahan tetap hijau dan produktif, sekaligus mendukung keberlanjutan pertanian desa. Melalui kopi, Desa Sikulan menumbuhkan bukan hanya tanaman, tetapi juga harapan akan potensi ekonomi dan identitas lokal yang bisa terus berkembang. Dengan dukungan pengetahuan budidaya, pengolahan pascapanen, dan pemasaran yang lebih luas, kopi berpeluang menjadi salah satu kebanggaan hasil bumi desa di masa depan.