Desa Sikulan merupakan salah satu desa di Kabupaten Pandeglang yang memiliki kekayaan sumber daya alam cukup melimpah, khususnya pada sektor pertanian dan perkebunan rakyat. Salah satu komoditas lokal yang tumbuh subur dan tersebar hampir di seluruh wilayah desa adalah tanaman melinjo (Gnetum gnemon). Keberadaan melinjo tidak hanya menjadi bagian dari lanskap alam pedesaan, tetapi juga memiliki nilai strategis yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan, peningkatan ekonomi masyarakat, serta pelestarian kearifan lokal.
Tanaman melinjo dikenal sebagai tanaman yang relatif mudah tumbuh di wilayah beriklim tropis seperti Desa Sikulan. Melinjo dapat hidup pada berbagai kondisi tanah dan tidak memerlukan perawatan intensif, sehingga banyak ditanam oleh masyarakat di pekarangan rumah, kebun, maupun lahan tegalan. Kondisi ini menyebabkan ketersediaan melinjo di Desa Sikulan tergolong melimpah, terutama pada musim panen tertentu. Namun, potensi besar tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat desa.
Selama ini, pemanfaatan melinjo oleh masyarakat Desa Sikulan masih cenderung bersifat konvensional. Melinjo umumnya diolah menjadi emping secara sederhana untuk konsumsi rumah tangga atau dijual dalam bentuk mentah dengan nilai jual yang relatif rendah. Padahal, melinjo memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan bernilai tambah tinggi, baik di sektor pangan, industri rumah tangga, maupun ekonomi kreatif desa. Kurangnya pengetahuan, keterampilan pengolahan, serta inovasi produk menjadi salah satu faktor yang menyebabkan potensi melinjo belum dimaksimalkan.
Dari sisi pangan, melinjo memiliki kandungan gizi yang cukup baik, seperti karbohidrat, protein nabati, serta senyawa antioksidan. Selain emping, biji melinjo dapat diolah menjadi aneka produk pangan seperti keripik melinjo aneka rasa, tepung melinjo, hingga bahan baku camilan modern yang memiliki daya tarik pasar lebih luas. Daun dan bunga melinjo juga dapat dimanfaatkan sebagai sayuran khas yang memiliki nilai budaya dan kuliner tersendiri, sehingga berpotensi mendukung pengembangan kuliner lokal Desa Sikulan.
Selain sektor pangan, pemanfaatan melinjo juga dapat diarahkan pada penguatan ekonomi masyarakat desa. Pengolahan melinjo secara berkelompok melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) desa dapat membuka peluang lapangan kerja, khususnya bagi ibu rumah tangga dan pemuda desa. Dengan pengemasan yang menarik dan strategi pemasaran yang tepat, produk olahan melinjo berpotensi menembus pasar lokal hingga regional. Hal ini sejalan dengan upaya pengembangan ekonomi desa berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.
Selain Itu, melinjo juga memiliki nilai kearifan lokal yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat desa. Proses pengolahan emping melinjo secara tradisional mencerminkan nilai gotong royong, kebersamaan, dan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu, pengembangan potensi melinjo di Desa Sikulan tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi semata, tetapi juga pada pelestarian budaya dan identitas lokal desa.
Melalui pendampingan, pelatihan pengolahan produk, serta pemanfaatan teknologi sederhana, melinjo dapat menjadi komoditas unggulan Desa Sikulan. Sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, dan pihak pendamping seperti mahasiswa KKM/KKN diharapkan mampu mendorong inovasi pemanfaatan melinjo secara lebih kreatif dan berkelanjutan. Dengan demikian, melinjo yang melimpah tidak lagi dipandang sebagai komoditas biasa, melainkan sebagai aset desa yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta memperkuat kemandirian ekonomi Desa Sikulan.